TETANGGAKU ADALAH MAUT: INGIN BERSAMA LINGKUNGAN, TAPI TAKUT KEHILANGAN DIRI


Oleh: Kartini

antologikartini.blogspot.com

 

IMPIAN YANG TERDISTRAK

Banyak tahun yang sudah kulalui, banyak pula impianku hilang dengan hal yang tiada arti. Aku tidak bermaksud sombong, jujur potensi yang ada di dalam diri ini sangat banyak. Begitu baik Allah memberiku banyak keinginan positif dibalut potensi. Sungguh keberkahan yang luar biasa. Lantas, apa yang terjadi kepada diriku? Satu hal yang baru kusadari,  tetanggaku berubah wujud dari penolong menjadi penjahat untuk keluargaku Ketika orang tuaku meninggal dan aku tinggal sebatang kara. Kanan, kiri tetanggaku yang berada di dekat sekitar rumahku, dulu selalu minta bantuan kepada keluargaku, baik bantuan materi maupun lainnya, seperti doa dan nasihat. Mereka berubah seketika membuka kedok bagaikan kotak pandora

Setiap hari mata tetanggaku tak pernah kedip capek memandangi rumahku. Bahkan segala aktivitasku mereka hafalkan. Lebih tepatnya menguntit. Mereka menguntit aku seperti aku punya hutang dan mau kabur. Atau seperti belum bayar kontrakan, trus mau kabur. Atau saya mengambil barang mereka diam, alias maling yang patut dicurigai. Situasi dan kondisi seperti ini membuat saya terdistrak dan tertular toksik. Gak sehat banget nih lingkungan.

FOKUS KEPADA ORANG LAIN DAN KEGAGALAN

Kalau kata Unda dalam artikel Kesehatan Mental dan Healing yang tepat bagi Bunda https://ipediaberitbaik./kesehatan-mental-healing-bagi-bunda/. Nah, healing ini pemulihan atau pengalihan? Buat aku menulis ini bagian dari healing, meskipun rasa itu akan muncul Kembali karena masih berada dalam zona yang sama.

Sebagai perempuan aku setiap hari beraktivitas domestik. Bertemu dengan tetangga yang toksik membuat kita sakit mental. Penuh curiga atau dicurigai. Aku jadi ketularan bercermin kepada mereka. Fokus kepada kehidupan mereka dan lupa akan agenda-agenda yang membuat hidup sukses. Itulah yamg mereka mau, ingin aku gagal akan pencapaian, karena pada dasarnya mereka iri dan ingin sukses dengan instan. Tidak mau capek, sibuk dengan gosip dan mengomentari hidup orang lain. Kesuksesan mereka adalah kegagalan orang lain. Semakin fokus dengan mereka semakin sama frekuensi diri.

KEHILANGAN IDENTITAS

Pada dasarnya aku ingin berbagi dengan tetanggaku, damai bercengkrama harmoni. Berbaur dengan keragaman lingkungan, tapi aku memfilter dari sampah yang akan membuat aku sakit menjadi toksik bagi diri dan orang lain. Memang benar menyelam ke dalam laut, namun tidak ikut asin memang sulit. Itu bagian dari ujian. Ingin berbaur dengan lingkungan, namun tidak ingin kehilangan diri. Diri yang tidak suka usil dengan kehidupan orang. Aku kehilangan identitas diriku yang produktif, ceria, selalu semangat pada setiap kesempatan. Aku tersadar ketika aku telah kehilangan banyak hal, keluarga, materi, peluang kerja yang menguntungkan, kebahaguaan, umur, pasangan, bisnis, kreativitas yang membahagiakan, bahkan martabat dan kehormatan

Hal yang sulit disembuhkan adalah trauma. Apalagi bertemu tetangga di lain tempat dengan pola dan model yang sama, langsung istigfar. Kenapa gue ketemu otang yang model begini lagi. Dan jangan berlama-lama untuk pindah tempat. Saat ini lebih mawas diri dan waspada atau memfilter tetangga. apalagi tetangga yang baru aku kenal. Semua aku jadikan Pelajaran dan perbanyak istigfar, kita tidak bisa mengotrol semua orang. Kita hanya bisa mengontrol diri kita unyuk Kesehatan jiwa dan raga, kebaikan dunia dan akhirat.

 

Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Menulis Blog ‘’Perempuan Bicara Rasa’’ sebagai bagian dati Rangkaian Milad Ipedia ke-6 tahun2026’’

https://www.ipediaberitabaik.id 

Comments

Popular posts from this blog

PERAN PEMULUNG DALAM MENYUKSESKAN SDG's