KRITIK FILM GURU BANGSA TJOKROAMINOTO KARYA GARIN NUGROHO

Oleh: Kartini

Film Guru bangsa Tjokroaminoto ini bergenre Drama Biografi, menceritakan tentang sosok ketokohan Tjokroaminoto dalam memperjuangkan hak bangsa Indonesia. Film ini rilis tahun 2015 disutradarai oleh Garin Nugroho. Peran utama dalam film tersebut Reza Rahardian.

Sebagai penikmat buku dan film Sejarah film ini tak luput dari sorotan mata saya. Apalagi jika kita bandingkan dengan buku karya-karya Tjokroaminoto. Tentunya, cerita ini tak luput dari catatan karya-karya Tjokroaminoto. Apresiasi yang cukup mendalam untuk Garin Nugroho dan tim yang telah membuat film ini dan menyuguhkan dengan sudut pandang perfilman. Namun, sebagai penikmat Sejarah ada hal yang sesuai dan tidak sesuai ekspektasi saya Ketika menonton film ini dan membandingkannya dengan buku karya-karya Tjokroaminoto Film ini mengangkat seorang tokoh Tjokroaminoto dari sudut pandang politik tentu, ekonomi, seni dan budaya di tanah Indonesia yang diwakili wilayah Jawa Tengah dan Jawa timur sekaligus sebagai latar dari film ini dimainkan.

Dalam sudut politik, Tjokroaminoto terbangun rasa kemanusiaannya melihat bangsanya diperlakukan tidak manusiawi oleh Belanda, keberaniannya untuk membela sebagai rasa besar cintanya terhadap tanah air membuat Tjokro melawan, perlawanannya mulai dari mendirikan cikal bakal koperasi, menulis pada suara Islam dan mempopulerkan batik sebagai singkatan dari basmalah titik.

Tjokroaminoto tidak bisa dilepaskan dari pemikiran Islam, Hijrah dalam film tersebut tak lain mengambil ketauhidan dari AL-Qurán dan Hadis. Segalahal pemikiran Tjokroaminoto tentang politik berdasarkan kepada sumber hukum Islam. Tentunya tetap toleran kepada Non Muslim.Belum lagi kepiawaiannya sebagai penulis pada surat kabar Soeara Islam. Begitu juga orasinya yang mampu menggerakkan bangsa Indonesia untuk Bersatu. Nah, inilah yang dinamakan Nasionalisme. Dalam film ini tidak menceritakan bagaimana Belanda takut dengan Sarekat Islam yang dipimpin oleh Tjokroaminoto, karena tidak membesar-besarkan Khilafiyah atau perbedaan dalam umat Islam. Sarekat Islam berpegang terhadap suart Al-Imran ayat 103, itulah nasionalisme yang diangkat dari ajaran Islam oleh Tjokroaminoto, selain perasaan senasib dan persaudaraan.

Sekian

Comments

Popular posts from this blog

PERAN PEMULUNG DALAM MENYUKSESKAN SDG's